KUALA LUMPUR – Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) resmi mengonfirmasi keterlibatan 20 perwiranya dalam aktivitas tidak bermoral yang dikenal dengan sebutan “Budaya Yeye”. Pengakuan ini muncul setelah penyelidikan awal terkait dugaan pelanggaran disiplin dan etika di lingkungan kamp militer.
Kepala RMAF, Jenderal Muhammad Norazlan Aris, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan toleransi bagi personel yang terbukti mencoreng nama baik institusi. Para pelaku akan diadili sesuai dengan hukum militer dan ketentuan Angkatan Bersenjata Malaysia.
“RMAF memandang serius setiap pelanggaran perintah, arahan, dan peraturan. Tindakan tegas akan diambil tanpa kompromi,” tegas Norazlan dalam pernyataan resminya, Sabtu (10/1/2026), sebagaimana dilansir dari CNA.
Pesta Seks dan Minibar di Markas Militer
Skandal ini mencuat setelah sejumlah video viral di media sosial yang menunjukkan aktivitas hiburan tidak sehat di lingkungan militer, yang diduga kuat berlokasi di Pangkalan Udara Subang. Video tersebut menggambarkan perilaku tidak pantas, keberadaan minibar, hingga dugaan pesta yang melibatkan pekerja seks komersial (PSK).
Istilah “Budaya Yeye” merujuk pada gaya hidup hura-hura dan aktivitas seksual menyimpang yang dilakukan oleh oknum perwira di dalam markas. Norazlan menekankan bahwa praktik tersebut bukanlah budaya resmi Angkatan Bersenjata Malaysia dan merupakan pelanggaran berat terhadap instruksi kepemimpinan.
“Kepemimpinan RMAF menyatakan penyesalan mendalam atas insiden ini. Mereka yang gagal melaksanakan instruksi dan membiarkan hal ini terjadi juga akan dimintai pertanggungjawaban,” tambahnya.
Penyelidikan Internal Menyeluruh
Menanggapi laporan dari media lokal Free Malaysia Today (FMT), Kementerian Pertahanan Malaysia telah menginstruksikan penyelidikan internal segera sejak 5 Januari lalu guna memverifikasi klaim-klaim di media sosial tersebut.
Pihak kementerian memastikan akan melakukan pembersihan di internal militer untuk memastikan integritas dan disiplin prajurit tetap terjaga. Kasus ini kini menjadi sorotan publik di Malaysia karena menyangkut moralitas para perwira tinggi di salah satu instansi keamanan paling vital di negara tersebut.











