OEEKAM, TTS – Berdiri kokoh di jantung Ibu Kota Kecamatan Amanuban Timur, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat Nazaret Oeekam kini telah menapaki usia pelayanan yang ke-38 tahun. Sejak resmi terbentuk sebagai jemaat tunggal, gereja ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu perkembangan sejarah dan potret kerukunan antarumat beragama di wilayah tersebut.
Akar Sejarah: Bermula dari Rayon Kota
Berdasarkan penuturan para saksi sejarah dan tetua jemaat, cikal bakal Nazaret Oeekam dimulai pada tahun 1978. Kala itu, wilayah ini masih berstatus sebagai “Rayon Kota” yang merupakan bagian dari Jemaat Ebenhaezer Oenasi. Dengan hanya beranggotakan 18 Kepala Keluarga (KK), aktivitas peribadatan dipimpin oleh Penatua Johanis Martinus Laubila di lokasi yang kini merupakan kediaman Bapak Yusuf Selan.
Konflik internal terkait pemindahan lokasi gedung gereja pada masa itu justru menjadi titik balik. Sejak tahun 1980 hingga 1983, jemaat ini mulai menata diri secara mandiri hingga akhirnya Majelis Sinode GMIT menempatkan pendeta pertama, Pdt. Nelci Nenotek Naiola, Sm. Th. Momentum inilah yang memperkuat fondasi Nazaret Oeekam hingga resmi berdiri sebagai jemaat tunggal pada tahun 2001.
Makna Nama dan Letak Geografis
Nama “Oeekam” sendiri memiliki arti mendalam yang diambil dari kondisi alam setempat. Berasal dari kata Oe (air) dan Ekam (pandan), nama ini merujuk pada adanya mata air yang dikelilingi pohon pandan, yang lokasinya hanya berjarak sekitar 100 meter dari gedung gereja saat ini.
Secara geografis, Jemaat Nazaret Oeekam terletak di Dusun Oeekam, Desa Oeekam. Wilayah pelayanannya berbatasan langsung dengan berbagai komunitas basis agama lain, seperti Paroki HTM Oenangkai di utara, serta Masjid An Nur Taehue dan Mushola Pondok Pesantren Miftahudin di sisi timur dan barat.
Potret Demografi dan Moderasi Beragama
Sebagai pusat kecamatan, Nazaret Oeekam memiliki warga jemaat yang heterogen. Saat ini, tercatat sebanyak 707 jiwa (147 KK) yang terdiri dari 364 laki-laki dan 343 perempuan menjadi bagian dari jemaat ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang suku dan profesi, mulai dari pelajar hingga ASN yang menetap karena penempatan kerja.
Menariknya, meski diapit oleh lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren dan masjid, Jemaat Nazaret Oeekam dikenal sangat menjunjung tinggi nilai toleransi.
“Ciri umum masyarakat di sini adalah masyarakat kota yang datang dari berbagai tempat, namun tetap memelihara kerukunan dan keutuhan meski hidup berdampingan dengan umat Islam, Katolik, dan Hindu,” tulis dokumen sejarah jemaat tersebut.
Upaya Penyelamatan Dokumen Sejarah
Menyadari pentingnya akar sejarah agar tidak hilang dimakan zaman, Majelis Jemaat Nazaret Oeekam pada tahun 2020 secara resmi membentuk Tim Penyusun Sejarah Jemaat. Langkah ini diambil karena banyaknya dokumen historis yang hilang akibat pergantian pejabat gereja secara periodik.
Penulisan sejarah ini melibatkan 16 narasumber kunci, termasuk pelaku sejarah awal dan para pendeta yang pernah melayani, seperti Johanis M. Laubila, Yohana M. Haekase-Mau, hingga Pdt. Nepe Baitanu-Djarawadu.
“Perjalanan 38 tahun ini adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Kami ingin memastikan generasi mendatang tidak kehilangan media untuk mengenali jati diri mereka sebagai hamba Allah dan utusan Kristus di dunia ini,” ungkap perwakilan jemaat dalam catatan resminya.
Hingga saat ini, GMIT Nazaret Oeekam terus bertransformasi menjadi komunitas keselamatan yang dinamis, sembari tetap memegang teguh warisan nilai-nilai luhur dari para pendahulu mereka di tanah Amanuban Timur.***












