Peristiwa memilukan di Desa Amol, Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Seorang pria tega menghabisi nyawa istrinya, adik ipar, dan dua keponakannya sendiri. Tiga di antaranya meninggal dunia, sementara satu anak mengalami luka berat dan kini berjuang untuk hidup.
Tragedi ini bukan sekadar catatan kriminal biasa, melainkan potret buram kemanusiaan yang mengguncang nurani banyak orang.
Kejadian ini mengingatkan kita bahwa rumah — tempat yang seharusnya menjadi benteng kasih sayang dan perlindungan — kini justru bisa berubah menjadi lokasi pembunuhan yang kejam.
Dalam sekejap, dinding rumah yang dulu penuh tawa menjadi saksi bisu kebiadaban akibat amarah yang tak terkendali. Ketika emosi dan alkohol menguasai pikiran, batas antara kasih dan kebencian menjadi begitu tipis, hingga darah pun tertumpah di antara keluarga sendiri.
Muncul pertanyaan besar di benak kita: apa yang sebenarnya sedang terjadi di tengah masyarakat kita? Mengapa begitu mudah seseorang kehilangan kendali hingga tega menghabisi nyawa orang yang dicintainya?
Apakah tekanan hidup, kemiskinan, kecanduan alkohol, atau lemahnya pembinaan moral menjadi akar dari semua ini? Apa pun alasannya, tidak ada satu pun yang dapat membenarkan tindakan sekejam ini.
Kehidupan keluarga seharusnya menjadi ruang saling mendukung, bukan medan pelampiasan amarah dan frustrasi.
Tragedi ini seharusnya menjadi alarm bagi kita semua bahwa kekerasan dalam rumah tangga bukan masalah pribadi semata, tetapi sudah menjadi persoalan sosial yang serius.
TTU#Keadilan untuk korban🕊️#Stopkekerasan#DamaiUntukAmol
Penulis: Maria Aloysia Funan
Npm:22230250
















