oleh

Perpustakaan TTU Ubah Konsep Ruang Baca, Hadirkan Musik Klasik hingga Pojok Literasi Kreatif

KEFAMENANU, mitranews.id – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) terus berinovasi dalam meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya kalangan pelajar. Berbagai strategi baru diterapkan untuk menciptakan suasana ruang baca yang nyaman, kreatif, dan tidak membosankan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan TTU, Robertus Nahas, mengatakan dirinya bersama seluruh staf terus berupaya menghadirkan pembaruan agar perpustakaan menjadi ruang yang diminati pengunjung.

“Dari waktu ke waktu, kita berupaya mencari strategi baru untuk bagaimana meningkatkan daya minat baca dan terlebih pengunjung,” ujar Robertus.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendesain ulang tata ruang baca. Menurutnya, ruang baca tidak boleh terasa seperti ruang kelas yang kaku dan membosankan.

“Ruang baca ini kita mesti desain tidak serta-merta seperti di ruang kelas. Mereka sudah jenuh di ruang kelas, kemudian datang juga posisi duduk menghadap ke depan. Kita berupaya mengubah suasana,” jelasnya.

Meja-meja diatur melingkar dengan ruang kosong di bagian tengah. Konsep ini diharapkan memberi ruang bagi anak-anak untuk berdiskusi dan mengekspresikan kreativitas.

Tak hanya itu, dinding perpustakaan kini dihiasi kata-kata motivasi untuk membangkitkan semangat membaca. Pihaknya juga menyiapkan “pojok literasi”, yakni sudut khusus berisi kertas kosong tempat anak-anak menuliskan ide atau rangkuman setelah membaca buku, lalu menggantungnya di papan yang telah disediakan.

Untuk menciptakan suasana nyaman ala toko buku modern, ruang baca juga diperdengarkan musik klasik yang lembut.

“Kita coba buat suasana seperti Gramedia. Jadi anak masuk tidak sekadar duduk, tapi ada musik klasik yang membantu mereka lebih fokus membaca,” katanya.

Selain pembenahan ruang, Perpustakaan TTU juga menjalankan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Program ini mengintegrasikan kegiatan membaca dengan praktik keterampilan.

“Contoh, kita membaca buku tentang menjahit, teori bagaimana mendesain pola. Kemudian di sini juga ada pelatihan menjahit, lalu dipraktikkan langsung,” jelas Robertus.

Program tersebut telah berjalan pada tahun-tahun sebelumnya dan kembali dilaksanakan tahun ini. Tak hanya menjahit, setiap Senin perpustakaan menggelar berbagai kegiatan seperti latihan tari, gong, hingga bermain bahasa Inggris.

“Kita buat istilahnya bermain bahasa Inggris supaya anak-anak lebih senang datang ke sini,” tambahnya.

Upaya mendekatkan layanan juga dilakukan melalui mobil perpustakaan keliling yang kini rutin mengunjungi sekolah-sekolah sesuai jadwal.

Buku-buku yang dibawa disesuaikan dengan kategori usia dan kebutuhan siswa.

Untuk kunjungan ke perpustakaan, jadwal disesuaikan dengan permintaan sekolah. Misalnya, SMP Putra berkunjung mulai pukul 11.30 WITA dengan durasi minimal dua jam. Begitu pula SDN Koko dan SD GMIT 2 yang jadwalnya menyesuaikan kesepakatan.

Robertus menegaskan, seluruh program tersebut bertujuan agar perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai tempat yang kaku, melainkan ruang belajar yang menyenangkan dan bermanfaat.

“Sangat bermanfaat. Kita ingin anak-anak merasa nyaman dan siap meningkatkan kemampuan mereka tanpa batas,” pungkasnya.

banner 336x280