oleh

Berbagi di Ujung Senja: Saat Gubuk Reyot Menjadi Saksi Kepedulian Seorang Frater

KEFAMENANU – Di Dusun Banopo, Desa Tublopo, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara NTT berdiri sebuah gubuk sederhana berdinding seng bekas dan kayu yang mulai lapuk. Di rumah itulah Nenek Elisabeth Nia menghabiskan hari-harinya. Di usia senja, ia tak lagi mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Harapan terbesarnya setiap bulan adalah mendengar langkah kaki seorang frater yang selalu datang mengetuk pintu rumahnya.

Frater Herman Tugas Ginting OFMConv menjadi sosok yang dinanti oleh 15 warga lanjut usia di Dusun Banopo. Dengan membawa beras dan kebutuhan pokok hasil dukungan para donatur, ia menyusuri rumah-rumah sederhana untuk memastikan para lansia tidak merasa sendiri menghadapi kerasnya kehidupan.

Bagi Frater Herman, kunjungan itu bukan sekadar memberikan bantuan. Ia datang membawa perhatian, doa, dan kasih yang membuat para lansia kembali merasakan hangatnya keluarga.

Setiap kali bertemu, Nenek Elisabeth bersama beberapa lansia lainnya selalu berusaha mencium tangan Frater Herman sebagai ungkapan syukur. Momen sederhana itu justru membuat sang frater terharu.

“Saya sangat terharu karena kedua orang tua ini selalu berusaha mencium tangan saya dan selalu tertawa setiap kali saya mengunjungi mereka. Akhirnya saya berusaha memberi dari kekurangan yang saya miliki,” tutur Frater Herman.

Menurutnya, kebahagiaan para lansia menjadi kekuatan untuk terus berbagi. Meski hidup sederhana, ia percaya kepedulian tidak harus menunggu memiliki lebih.

“Setiap bulan ada 15 lansia yang mendapat berkat melalui saya dan ini semua berkat bantuan para donatur. Kami juga berusaha memperbaiki rumah-rumah lansia yang sudah tidak layak huni,” katanya.

Sebagian besar lansia yang didampinginya hidup dalam kondisi ekonomi terbatas. Ada yang tinggal sendiri, ada pula yang menempati rumah yang nyaris roboh. Namun di tengah keterbatasan itu, kehadiran Frater Herman menghadirkan secercah harapan.

Langkah kecil yang dilakukannya menjadi bukti bahwa nilai kemanusiaan masih tumbuh di pelosok Timor Tengah Utara. Di saat banyak orang sibuk dengan urusan masing-masing, ia memilih berjalan dari rumah ke rumah, berbagi berkat, menguatkan hati, dan memastikan para lansia tetap merasakan kasih.

Bagi Frater Herman, pelayanan kepada sesama bukan sekadar panggilan, melainkan cara menghadirkan Tuhan di tengah mereka yang paling membutuhkan.

“Kemuliaan bagi Tuhan dan kebahagiaan bagi sesama,” menjadi prinsip yang terus dipegangnya dalam melayani para lansia di pelosok Dusun Banopo.

banner 336x280