KEFA, NTT – Suasana keakraban terjalin di Kebun Tani Sehati, Dusun Banopo, Desa Tublopo, Kecamatan Bikomi Selatan, saat Frater Herman Tugas Ginting OFM Conventual menyambut kunjungan dari Pendeta Rinto Tampubolon dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Aries Jakarta.
Kunjungan ini menjadi momen refleksi atas perjalanan Kelompok Tani Sehati, sebuah inisiatif eko pastoral yang berdiri sejak 5 Agustus 2020. Kelompok ini kini beranggotakan 42 orang, didominasi oleh para orang tua.
Motto ‘Karya Nyata Bukan Karya Kata’
Frater Herman menjelaskan bahwa Kebun Tani Sehati diilhami oleh semangat Santo Fransiskus yang mengatakan, “Lebih baik berbuat daripada berbicara.”
“Itulah tautan Fransiskus kepada kami, sehingga kami melahirkan motto untuk di kebun ini, Kelompok Tani Sehati ini, karya nyata bukan karya kata,” tegas Frater Herman.
Kunjungan pendeta di Banopo ini disambut dengan sukacita dan rasa syukur, mengingat sejarah desa yang dulunya dianggap “agak ditakuti” dan bahkan pernah disebut sebagai “zona merah” oleh sejumlah pejabat daerah.
Mengubah Wajah ‘Kampung Merah’
Frater Herman memulai pelayanan di Banopo pada tahun 2018. Ia tersentuh melihat kondisi masyarakat kala itu, dengan mayoritas rumah terbuka dari bebak dengan lantai tanah. Sebagian anak-anak ditinggalkan oleh orang tua mereka yang bekerja di Malaysia dan hanya diasuh oleh kakek-nenek.
“Saya katakan, biarpun zona merah, yang penting saya membawa hati ke Banopo,” kenang Frater Herman mengenai larangan masuk ke desa itu di awal pelayanannya.
Kelompok Tani Sehati di lahan seluas 2 hektare yang sudah diolah ini menjadi titik awal perubahan. Mereka menerapkan sistem daur ulang dengan menggunakan kotoran ternak (babi, sapi, ayam) sebagai pupuk untuk tanaman, menciptakan ekosistem pertanian terpadu.
Perjuangan Pendidikan dan Kebutuhan Air Bersih
Selain masalah ekonomi, tantangan utama di Banopo adalah pendidikan dan iman. Frater Herman merefleksikan bahwa mayoritas masyarakat di kampung ini tidak bersekolah dan belum memiliki sarjana yang sah. Keterbatasan literasi ini berdampak pada pemahaman iman Katolik mereka.
Untuk mengatasi hal ini, kelompok tersebut rutin membawa sekitar 25 hingga 30 anak ke kota setiap tahun untuk membeli perlengkapan sekolah lengkap. Bahkan, mereka telah menyekolahkan beberapa anak di kota, termasuk dua di SMP/SMA dan dua orang di Akademi Kebidanan.
“Kami yakin mereka ini umumnya tidak mengenal Tuhan sampai hari ini… Hanya otomatis iman mereka juga mudah mereka tinggalkan,” ujar Frater Herman.
Isu vital lainnya adalah air bersih. Warga selama bertahun-tahun menggunakan air minum dan masak dari sungai yang merupakan sisa air kotor dari kota.
Berkat bantuan donatur, termasuk dari GKI Taman Aries Jakarta, mereka kini telah membuat sumur di kebun yang sangat bermanfaat, meskipun warga harian masih mengambil air dari kali.
Bantuan Ternak dan Harapan Baru
Sebagai bagian dari pemberdayaan, kebun ini juga memiliki kandang ternak. Frater Herman menyebut mereka telah membagikan sekitar 145 ekor anak babi secara gratis kepada keluarga kurang mampu agar dapat dikembangkan.
Frater Herman berharap, melalui upaya ini dan dukungan para donatur, Banopo, yang dulunya tidak dianggap dan ditakuti, dapat menjadi seperti Betlehem—sebuah kampung kecil yang kini mulai dikenal dan menjadi percontohan.
“Semoga di hari-hari tuanya mereka bisa menikmati suatu kebahagiaan, dengan sedikit bisa menikmati hasil jerih payah mereka,” pungkas Frater Herman.


















