KEFAMENANU – Yayasan Karunia Pengembangan Anak (YKPA) mitra ChildFund International di Indonesia, menggelar pelatihan intensif penguatan soft skill, Training of Trainers bagi para guru SMK se-Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Malaka, NTT. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari di Hotel Livero, Kefamenanu, mulai Rabu (04/02/2026).
Pelatihan ini bertujuan untuk membekali tenaga pendidik agar mampu mengintegrasikan kecakapan personal ke dalam kurikulum sekolah, guna mempersiapkan lulusan SMK yang siap bersaing di dunia kerja dan dunia usaha.
Pentingnya Soft Skill di Era Dinamis
Project Director YKPA mitra ChildFund Internasional di Indonesia, Martina Telik Berek, menjelaskan bahwa lulusan SMK tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi teknis (hard skill). Dinamika dunia kerja menuntut para pemuda memiliki kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, hingga kecerdasan emosional.
“Peserta pelatihan berasal dari 25 sekolah di TTU dengan sekitar 57 peserta, dan 6 sekolah dari Malaka dengan 13 peserta. Kami ingin guru-guru mampu mengimbaskan soft skill ini kepada anak didik. Harapannya, keterampilan mengelola emosi dan berpikir kritis ini terintegrasi dalam kurikulum sekolah,” ujar Martina.
Martina menambahkan, YKPA mitra ChildFund Internasional di Indonesia bersama Koordinator Pengawas (Korwas) akan melakukan monitoring secara berkala untuk memastikan implementasi kurikulum ini berjalan efektif di setiap sekolah.
Dukungan Pengawas dan MKKS
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Pengawas SMA/SMK/SLB Kabupaten TTU, Ny. Elfira Ogom, menekankan bahwa kemampuan komunikasi adalah kunci keberhasilan siswa dalam memasarkan hasil produksi mereka di masyarakat.
“Bagaimana si anak mampu berkomunikasi baik dengan pelanggan agar produknya menarik? Ini butuh soft skill. Jika komunikasinya bagus, publikasi hasil produksinya pun akan maksimal,” ungkap Elfira.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah, (MKKS) SMK Kabupaten Malaka, Siprianus Kehi Mau, mengakui bahwa selama ini aspek soft skill sering terabaikan dibandingkan hard skill. Padahal, saat menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL), siswa harus mampu beradaptasi dengan berbagai status sosial di tempat kerja.
“Ini menyangkut adaptasi pada peradaban. Anak harus mampu membangun team work dan berinteraksi dengan orang yang belum dikenal. Kami berterima kasih kepada YKPA mitra ChildFund Internasional di Indonesia karena pelatihan ini sangat menjawab kebutuhan kami di Malaka,” kata Siprianus.
Sementara itu, Ketua MKKS SMK Kabupaten TTU, Yanuarius Seran Fahik, menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti hasil kegiatan ini ke dalam kurikulum masing-masing sekolah.
“Kegiatan ini adalah dasar kecakapan anak didik. Sebelumnya kami mungkin belum mendalami integrasi soft skill ke dalam kurikulum. Sekarang, kami akan berusaha menerapkannya karena ending-nya adalah kesiapan anak-anak menghadapi dunia kerja,” tegas Yanuarius.
Melalui sinergi antara YKPA mitra ChildFund Internasional di Indonesia dan jajaran pendidikan di TTU serta Malaka, diharapkan lulusan SMK tidak hanya menjadi pekerja teknis, tetapi juga agen perubahan yang memiliki etika kerja dan keterampilan personal yang unggul.












