Oleh; Sefrianus Kolo. Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Fakultas Filsafat.Prodi Ilmu Filsafat.
Dalam Tradisi Gereja Katolik, Sakramen Perkawinan bukan semata-mata sebuah kontrak sosial atau kesepakatan hukum sipil antara seorang pria dan seorang wanita. Sakramen Perkawinan adalah sebuah simbol nyata dari kehadiran Tuhan yang menyatukan keduanya. Di depan Altar dan di hadapan imam serta bapak mama saksi kedua mempelai mengucapkan kalimat, “Apa yang telah persatukan oleh Allah, tidak boleh dipisahkan oleh manusia”. Ucapan ini, memiliki makna teologis bahwasannya pernikahan itu suci dan kudus dan bersifat tak terpisahkan kecuali maut. Namun, di era postmodern dan postruth rupanya Sakramen Pernikahan mengalami disrupsi saat ini, dimana ada tantangan terhadap integritas Sakramen Perkawinan yang datang bukan dari pihak luar dalam bentuk terlihat, tetapi ia tak terlihat namun nyata dan memiliki kekuatan untuk merusak, ia adalah Algoritma.
Fenomena ini mampu menciptakan sebuah paradoks yang menyakitkan, ketika melihat banyak pasangan yang tidak setia satu sama lain. Hal ini memicu keprihatinan dan kekhwatiran dari berbagai pihak, misalnya orang tua, keluarga besar, gereja maupun kekudusan sakramen itu sendiri. Padahal di hadapan Tuhan dan banyak saksi kedua mempelai mengikrarkan janji, yaitu hidup satu daging, suka maupun duka bersama sampai maut maut memisahkan. Namun di depan layar handphone keduanya sering kali terjebak dalam dua dunia yang berbeda. Keduannya memiliki dunia masing-masing dengan ketidaksadaran bahwa mereka berada dalamsebuah jebakan algoritma yang semu. Judul diatas; Tuhan menyatukan, tetapi Algoritma memisahkan karena algoritma lebih menyenagkan dan asyik daripada merawat dan menghayati kesetian.
Ada Kehadiran yang Hilang
Hakekat dari sebuah sakramen adalah “tanda dan sarana” yang menjadi sebuah simbol dari kasih Kristus terhadap Gereja. Kristus adalah mempelai laki-laki dan Gereja adalah mempelai wanita. Ini adalah sebuah metafora teologis untuk menggambarkan hubungan Allah dan umat-Nya. Artinya Kristus memiliki kasih yang tak terbatas kepada Gereja-Nya begitupula sesungguhnya kedua mempelai memiliki cinta yang tak terpisahkan satu diantara lain. Disinilah ada kehadiran yang hilang (Kristus) di tengah mempelai tersebut. Sebenarnya, kehadiran Kristus merupakan syarat mutlak yang tidak dapat ditawar. Sayangnya, faktor digital telah merasuki keduanya sehingga tercipta ruang baru yang dikenal dengan “Phubbing” yaitu, mengabaikan orang di sekeliling kita demi gadget. Di ruang makan kelaurga, kamar tidur maupun disaat berkumpul bersama semua pada fokus dengan dunianya masing-masing. Kita dapat melihat tubuh-tubuh yang dekat namun mempuyai jiwa-jiwa jauh yang terpisah. Suami terpaku dengan update klasemen perolehan poin atau skor olahraga, dan berita politik. Anak-anak sibuk bermain game kesukaan mereka. Sementara istri terhayut dalam scrolling tanpa henti di Instagram, Tik Tok maupun bermain Fb Pro. Secara fisik mereka ada, tetapi secara emosianal dan kedalaman jiwa kosong serta tidak hadir. Ini adalah luka pertama pada Sakramen Perkawinan; Pengurangan kehadiran secara kejiwaan dan emosional dari keduannya. Apabila Algoritma berhasil memikat perhatian kita dari wajah pasangan, Algoritma sebenarnya sedang membongkar pertahanan terdalam dari keintiman suami-istri.
Cara Main Algoritma
Pertanyaannya, mengapa Algoritma menjadi ancaman yang begitu serius bagi suatu hubungan sakramental? Ya, karena cara main Algoritma berbeda…”pikir Algoritma mo parah nahh”…Algoritma beroperasi melalui media sosial yang telah dirancang untuk memanjakan pengguna. Algoritma memahami apa yang kita sukai, apa yang kita inginkan danapa yang membuat kita bertahan lama dalam layar ponsel kita masing-masing. Algoritma bersifat ego-sentris. Sebaliknya, Perkawinan sesungguhnya berfokus pada komunio yang selalu mengutamakan kehidupan bersama demi kebaikan bersama. Perkawinan membutuhkan nilai pengorbanan, kesabaran, dan kemampuan untuk menerima kekurangan-kekurangan dari pasangan yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita. Tetapi tidak dengan Algoritma, Algoritma selalu memberikan pelarian. Ketika ada masalah kesalahpahaman dalam rumah tangga berdiskusilah secara personal untuk menemukan solusi. Jangan menyendiri atau bahkan memposting pada media sosial karena seseorang mudah mencari hiburan yang instan atau mencari pengakuan dari orang asing di media sosial. Maka inilah zonanya Algoritma mulai memisahkan; ia memberikan kenyamanan yang semu yang menjauhkan seseorang dari realitas hidup berpasangan. Kemudia ia tidak akan pernah bertanggungjawab atas keterpisahan tersebut karena ia tidak memiliki emotional maupun kapasitas berefleksi atas sebuah peristiwa kemanusian.
Salah satu luka lain digital dalam Sakramen Perkawinan yang sering kali muncul melalui micro-cheating. Micro-cheating adalah interaksi kecil-kecilan melalui media sosial , seperti komentar yang terlalu akrab, mengirim pesan pribadi atau DM (Direct Masage) yang bersifat rahasia atau memberikan “like” yang secara berlebihan pada postingan mantan kekasih, kenalan, sahabat, maupun orang asing yang manarik perhatian. Algoritma seringkali menghasilkan konten yang menimbulkan perbandingan sehingga memprovokasi pasangan untuk mulai melakukan penilaian dan perbandingan terhadap kehidupan rumah tangga sendiri. Kemudian, Algororitma akan menyajikan tayangan-tanyangan berulang tentang “etalase” kehidupan orang lain yang terlihat lebih sempurna di media sosial. Sehingga meninggalkan luka bagi Sakramen Perkawinan. Luka digital ini senyap, tak terlihat tetapi meninggalkan luka yang dalam bagi pasangan. Ketidakpuasan yang muncul akibat standar kebahagian yang tidak nyata di layar ponsel membuat pasangan kesulitan menghargai rahmat Tuhan yang ada didepan mereka. Akibatnya, ikatan kesetian tidak lagi dirayakan sebagai karunia, malah dipandang sebagai beban.
Menghadirkan Askese Digital dalam Perkawinan
Askese merupakan sebuah praktek spiritual atau rohani yang disarankan oleh Gereja Katolik untuk mengendalikan diri demi mencapai kebaikan yang lebih tinggi. Di era digital ini, keluarga-keluarga Katolik didorong untuk menerapkan “Askese Digital” bukan karena menolak kemajuan teknologi, tetapi menempatkan teknogi di bawah martabat manusia dan sakramen. Caranya demikian; menyadari bahwa waktu bersama pasangan adalah waktu yang suci. Meja makan dan kamar tidurharus bebas dari gangguan layar ponsel. Salain memberi perhatian secara lansung, direct love dan “Love language”, tetapi juga saling transparandi dunia digital agar tidak terjerumus dan terjebak pada cara main Algoritma, karena dalam Sakramen Perkawinan tidak seharusnya berada dalam area gelap yang tersembunyi. Media sosial seharusnya tidak menjadi tempat untuk menyembunyikan emosional, melainkan alat untuk mendukung kebaikan keluarga.
Pesan mendiang Paus Fransiskus dalam seruannya,“Apostolik Amoris Laetitia”. Ia menekankan bahwa cinta di dalam keluarga membutuhkan waktu yang berkualitas dan kesabaran dalam mendengarkan. Teknologi digital, jika tidak diatasi dengan kedewasaan iman, maka akan berfungsi seperti pisau yang perlahan-lahan merobek bahkan memutuskan tali persatuan yang telah diberkati Tuhan. Kita harus berani berkata “cukup” pada Algoritma ketika ia mulai mengganggu keharmonisan dan kedaimaian dalam rumah tangga kita. Ia sekali lagi, mengingatkan semua pasangan muda yang menikah di zaman digital bahwa apa yang telah disatukan oleh Allah di Altar suci tidak boleh diceraikan oleh Algoritma yang ada di ponsel saudara-saudari sekalian. Marikembali ke hati pasanganmu, ke rumah tanggamu. Mari kamu semua, temukanlah sosok Kristus dalam wajah pasangan kalian, bukan pada cahaya biru dan postingan media sosial, reels, Tik-Tok, Instagram,WhatsApp, Facebook story di layar ponsel. Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan pernikahan anda bukanlah seberapa banyak like yang kita dapatkan dari orang lain, melainkan seberapa besar anda dapat mencintai dan hadir untuk orang yang Tuhan percayakan di samping anda. Sakaramen Perkawinan dapat menuntun anda kepada suatu perjalanan panjang menuju kesucian. Jangan biarkan Algoritma menjadikannya sekadar tempat singgah sepi di tengah hiruk-pikuk dunia maya. Karena Tuhan menyatukan anda selamanya, sementara Algoritma hanya ingin mengambil waktu anda untuk sementara.











