SOE, MITRANEWS.ID – Sebuah terobosan kreatif muncul dari dunia akademik yang bersentuhan langsung dengan kearifan lokal. Yeane H. Toto, mahasiswi Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, berhasil menciptakan inovasi pewarnaan benang alami menggunakan daun Balakacida atau yang dikenal warga lokal dengan sebutan tanaman Sufmuti.
Inovasi ini dipraktikkan langsung di UMKM Tenun Ikat Sehati, Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Meski berlatar belakang pendidikan Jurusan Akuntansi/Keuangan, Yeane membuktikan bahwa rasa cinta pada budaya mampu melahirkan karya nyata di bidang swasta.
Proses Alami dan Anti Luntur
Yeane menjelaskan, proses pewarnaan ini membutuhkan ketelitian. Dimulai dengan pengambilan daun Balakacida yang kemudian diiris kecil-kecil. Daun tersebut direbus dalam air mendidih selama 45 menit untuk mengeluarkan pigmen warna hijaunya.
“Benang kemudian dimasak selama 45 menit dalam ekstrak daun tersebut, lalu direndam dalam cairan fiksasi selama satu malam untuk mengunci warna,” jelas Yeane.
Yang mengejutkan, saat dilakukan uji coba pencucian di empat wadah air yang berbeda, warna hijau alami dari daun Balakacida tersebut sama sekali tidak luntur. Setelah dikeringkan selama dua hari, benang siap untuk proses menghaning dan ditenun menjadi kain.
Apresiasi dari UMKM Tenun Ikat Sehati
Ketua UMKM Tenun Ikat Sehati, Ibu Martha, mengaku sangat terinspirasi dan bangga atas keberanian Yeane.
Ia sempat merasa bimbang karena latar belakang pendidikan Yeane yang bukan dari bidang seni atau kriya, melainkan Akuntansi.
“Saya sangat bangga. Ini pertama kalinya ada mahasiswi yang langsung terjun membuat pewarnaan dari tanaman Sufmuti dan hasilnya luar biasa. Terima kasih Yeane yang sudah sangat berani dan terampil,” ungkap Ibu Martha penuh haru.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi Yeane dan institusi pendidikannya, Ibu Martha menyiapkan cendramata khusus berupa selendang tenun hasil pewarnaan alami tersebut yang bertuliskan nama Rektor UKAW, Dekan Fakultas Ekonomi, hingga Dosen Pembimbing sebagai wujud terima kasih.
“Saya apresiasi komitmen UKAW Kupang dalam menciptakan generasi yang luar biasa dan mencintai budayanya sendiri. Ini adalah bukti bahwa semangat anak muda untuk melestarikan tenun ikat tidak luntur dimakan zaman,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan penggunaan bahan alami seperti Balakacida dapat menjadi alternatif ramah lingkungan bagi para pengrajin tenun di NTT, sekaligus meningkatkan nilai jual produk UMKM di pasar internasional.












