Rocky Gerung dikenal sebagai salah satu intelektual publik yang berani menggunakan kritik sebagai alat untuk menguji kekuasaan. Dengan bahasa yang tajam, logika yang provokatif, dan argumentasi yang sering menggelitik, ia tidak selalu memilih jalan yang aman ketika berbicara tentang pemerintah, politik, maupun para pemegang kekuasaan.
Namun, pertanyaan pentingnya adalah: seberapa sakti kritik Rocky Gerung ketika benar-benar berhadapan dengan kekuasaan?
Kritik pada dasarnya bukan sekadar keberanian berbicara. Kritik adalah upaya menjaga agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol. Dalam demokrasi, kekuasaan membutuhkan suara yang berbeda, termasuk suara yang keras, tidak nyaman, bahkan terkadang menyakitkan bagi mereka yang sedang berkuasa.
Di titik inilah posisi Rocky Gerung menjadi menarik. Selama ini, ia membangun citra sebagai sosok yang tidak mudah tunduk pada tekanan kekuasaan.
Tetapi kekuatan seorang pengkritik sesungguhnya tidak hanya diukur dari seberapa keras ia berbicara. Kesaktiannya justru diuji dari seberapa kuat argumentasinya ketika berhadapan dengan fakta, data, dan realitas politik.
Kritik yang tajam tanpa dasar dapat berubah menjadi sekadar retorika. Sebaliknya, kritik yang dibangun atas data, fakta, dan nalar publik akan memiliki daya tekan yang jauh lebih kuat. Karena itu, Rocky Gerung tidak hanya sedang menguji kekuasaan, tetapi juga sedang diuji oleh publik.
Kekuasaan tentu memiliki mekanisme untuk mempertahankan dirinya. Ada struktur, institusi, sumber daya, dan legitimasi politik. Karena itu, kritik terhadap kekuasaan tidak boleh berhenti pada sindiran atau pernyataan yang viral.
Kritik harus mampu membongkar persoalan, menunjukkan kelemahan kebijakan, menawarkan perspektif alternatif, dan mendorong publik untuk berpikir lebih kritis.
Di sinilah demokrasi membutuhkan keseimbangan. Kekuasaan tidak boleh alergi terhadap kritik, sementara pengkritik juga tidak boleh merasa dirinya selalu benar.
Rocky Gerung boleh saja menjadi suara yang keras di ruang publik. Namun, ukuran terakhir dari kritik bukanlah seberapa ramai perdebatan yang ditimbulkannya. Ukurannya adalah apakah kritik tersebut mampu membuat kekuasaan lebih terbuka, lebih rasional, lebih bertanggung jawab, dan lebih berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Maka, “kesaktian” Rocky Gerung bukan terletak pada kerasnya kata-kata, tetapi pada kemampuan mempertahankan nalar ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Pada akhirnya, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya nama Rocky Gerung. Yang dipertaruhkan adalah kualitas kritik dalam demokrasi: apakah kritik masih mampu menjadi alat kontrol kekuasaan, atau justru berubah menjadi sekadar pertunjukan politik di ruang publik.
Kekuasaan perlu dikritik. Tetapi kritik juga harus siap diuji.
Di situlah kesaktian kritik Rocky Gerung benar-benar dipertaruhkan.











