KEFAMENANU – Alunan musik suling bambu yang dimainkan 31 siswa SMP Mimbar Budi Manufui sukses membuat suasana hening dan memukau para penonton dalam ajang Pameran Literasi Pendidikan antar K3S dan MKKS se-Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamis (30/4/2026).
Penampilan tersebut berlangsung di depan stand Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Biboki, tepat di halaman Kantor Bupati TTU. Dengan membawakan lagu daerah “Bo Lelebo” dan “Eupna Es Kaubele”, para siswa tampil penuh penghayatan di bawah bimbingan guru pembina, Finus Tjeunfin.
Aksi memikat ini ditampilkan usai Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, mengunjungi seluruh stand pameran. Kehadiran para siswa dengan alat musik tradisional itu langsung menyita perhatian dan mendapat apresiasi dari orang nomor satu di TTU tersebut.
Salah satu momen yang paling menyentuh terjadi ketika Bupati Falen Kebo berdialog dengan salah satu pemain suling, Elisabeth Degey, siswi kelas VIII yang berasal dari Nabire, Papua.
Elisabeth menjadi sorotan setelah mengisahkan perjalanan hidupnya yang cukup panjang hingga bisa bersekolah di TTU.
Di hadapan Bupati dan Kapolres TTU AKBP Eliana Papote, Elisabeth dengan suara terbata-bata menceritakan bahwa dirinya datang ke TTU sejak dua tahun lalu setelah diadopsi oleh seorang suster Katolik yang bertugas di wilayah Manufui, Kecamatan Biboki Selatan.
Mendengar kisah tersebut, Bupati Falen Kebo langsung menunjukkan empatinya. Ia bahkan menawarkan bantuan agar Elisabeth bisa pulang kampung dan bertemu keluarganya di Nabire saat libur sekolah.
Dengan mata berkaca-kaca, Elisabeth mengangguk pelan, menandakan kerinduannya yang mendalam terhadap keluarga, terutama sang ibu.
“Kita akan wujudkan kerinduan Elisabeth untuk bertemu keluarganya di Nabire. Pemerintah akan memfasilitasi biaya perjalanan pergi-pulang dari Kefamenanu ke Nabire. Ini bentuk perhatian dan kasih sayang kita kepada anak-anak dari luar daerah yang bersekolah di TTU,” ujar Bupati Falen Kebo kepada wartawan.
Menurutnya, keberadaan siswa dari luar daerah, termasuk Papua, bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah atau lembaga keagamaan, tetapi juga merupakan tanggung jawab moral seluruh masyarakat TTU.
“Kita harus memberikan kesan yang baik bagi mereka. Di usia seperti ini, mereka akan mengingat apa yang kita lakukan. Minimal kita berikan perhatian dan kasih sayang,” tambahnya.
Penampilan suling bambu tersebut tidak hanya menjadi hiburan dalam pameran literasi pendidikan, tetapi juga menghadirkan kisah kemanusiaan yang menyentuh hati, sekaligus mempererat rasa persaudaraan lintas daerah di Kabupaten TTU.











