KEFAMENANU– Potensi geologi Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang unik kini dibedah secara mendalam melalui perspektif sains dan budaya. Hal ini terungkap dalam peluncuran dan diskusi buku bertajuk “Eksotika Geowisata Kabupaten Sejuta Lopo: Dari Mitologi ke Geologi” karya Dr. Herry Zadrak Kotta, ST., MT.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai II Kantor Bupati TTU pada Kamis (22/01/2026) ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati TTU, Kamilus Elu, S.H. Acara ini dihadiri oleh para pemerhati lingkungan, akademisi, serta pihak terkait lainnya.
Geowisata Sebagai Prime Mover Ekonomi TTU
Penulis buku yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah NTT, Dr. Herry Zadrak Kotta, menekankan bahwa masa depan NTT bertumpu pada dua pilar utama: Pariwisata dan Pertanian-Peternakan.
Menurutnya, geowisata di TTU memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak utama (prime mover) ekonomi daerah agar tidak terjadi pelarian modal (capital flight) seperti yang dialami beberapa wilayah lain.
“Kita harus memiliki objek wisata yang menjadi daya tarik kuat di daratan Timor. Geowisata adalah alternatif yang kita pacu untuk menjadi prime mover. Keunggulannya adalah ia mencakup aspek konservasi, edukasi, sekaligus ekonomi tanpa bersifat destruktif terhadap alam,” jelas Herry.
Ia menambahkan, ketika geowisata di TTU mulai “booming”, sektor pertanian dan peternakan harus sudah siap menyokong kebutuhan wisatawan.
“Dengan adanya sumber penghasilan dari wisata, masyarakat akan terpacu untuk menanam dan beternak secara mandiri untuk memenuhi pasar yang ada,” tambahnya.
Wacana Pembangunan Kampus Lapangan Geologi di Kefamenanu
Sebagai tindak lanjut dari peluncuran buku ini, Dr. Herry mengungkapkan mimpi besar untuk membangun sebuah Kampus Lapangan Geologi di Kabupaten TTU. Hal ini sejalan dengan rencana Universitas Nusa Cendana (Undana) yang akan membuka program studi Geologi.
“Kefamenanu memiliki batuan piroklastik hasil letusan gunung api purba yang sangat lengkap sebagai objek pembelajaran. Jika kampus lapangan dibangun di sini, mahasiswa tidak perlu jauh-jauh lagi untuk belajar batuan gunung api. Ini peluang besar bagi TTU untuk menjadi pusat edukasi geologi di NTT,” tuturnya.
Dekonstruksi Cara Pandang Terhadap Alam
Sementara itu, Pater Pit Salu, memberikan apresiasi tinggi terhadap karya tersebut. Ia menilai buku ini sangat strategis karena mampu menyatukan sisi teknis geologi dengan mitologi masyarakat lokal.
“Buku ini melakukan dekonstruksi terhadap cara kita melihat alam TTU. Lupakan cara lama melihat alam, kita diajak melihat TTU dalam pandangan baru yang lebih segar. Melalui buku ini, Dr. Herry sedang memanusiakan sains,” puji Pater Pit Salu disambut tepuk tangan hadirin.
Ia berharap konsep geowisata yang ditawarkan dapat melibatkan masyarakat lokal secara penuh sehingga manfaatnya dirasakan secara berkelanjutan hingga generasi mendatang tanpa merusak ekosistem yang ada.
Diskusi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Pemerintah Kabupaten TTU dalam merumuskan kebijakan pengembangan pariwisata berbasis geologi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah “Sejuta Lopo”.

















