KEFAMENANU – Kepedulian dan solidaritas sosial kembali membuktikan bahwa harapan selalu hadir bagi mereka yang membutuhkan.
Berkat uluran tangan satu donatur dari Jakarta seorang bocah yatim piatu asal Dusun Banopo, Desa Tublopo, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, akhirnya dapat mempersiapkan diri mengikuti penerimaan Komuni Pertama.
Bocah tersebut adalah Kristo Omenu (11), siswa kelas IV SD yang selama ini hidup bersama dua saudaranya setelah kehilangan kedua orang tua.
Keterbatasan ekonomi yang dihadapi keluarga kecil itu sempat membuat Kristo terancam tidak memiliki perlengkapan yang diperlukan untuk mengikuti salah satu perayaan penting dalam Gereja Katolik tersebut.
Melihat kondisi itu, satu donatur tergerak untuk membantu. Bantuan kemudian disalurkan melalui Frater Herman Tugas Ginting OFMConv yang selama ini aktif mendampingi masyarakat di Dusun Banopo.
Berkat dukungan tersebut, Kristo memperoleh perlengkapan lengkap untuk mengikuti Komuni Pertama, mulai dari pakaian putih, dasi hingga sepatu yang akan dikenakannya pada perayaan sakral yang dijadwalkan berlangsung Minggu mendatang.
Bahkan administrasi di sekolah untuk bisa mengikuti Komuni Pertama itu juga sudah diselesaikan sebelumnya.
Kamis (4/6/2026) pagi, kebahagiaan terlihat jelas di wajah Kristo saat berada di sebuah toko pakaian di Kota Kefamenanu. Didampingi Frater Herman, ia mencoba dan mengukur pakaian yang akan digunakan pada hari istimewa tersebut.
Bagi sebagian orang, bantuan berupa pakaian mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Kristo, bantuan itu menjadi simbol kasih, perhatian, dan kepedulian yang memberinya semangat untuk terus melangkah di tengah berbagai kesulitan hidup yang dialaminya.
Frater Herman mengatakan bahwa pelayanan kepada sesama harus diwujudkan melalui tindakan nyata, terutama kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan.
“Yang penting kita selalu membuat karya nyata, bukan hanya kata-kata,” ujarnya.
Dikatakannya, donatur tersebut selain membantu lansia dan anak anak dari keluarga kurang mampu termasuk Kristo Omenu dan Kakeknya, Donatur tersebut juga selalu membantu pelayanan di TTU.
Sebelumnya diberitakan Tiga Balita Yatim Piatu di Dusun Banopo TTU Ratapi Ibu Kandung yang Meninggal dibaringkan di atas tikar beralaskan lantai.
Kisah tragis dialami 3 bocah balita asal Dusun Banopo, Desa Tublopo, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, mereka bertiga meratapi ibu kandung yang meninggal dunia karena derita sakit aneh.
Di dalam gubuk sederhana beralaskan tanah, di Dusun Banopo, kisah mereka mengiris hati. Tiga bocah yang masih balita, Simon Omenu, Kristo Omenu, (ele), dan seorang adik perempuannya, duduk saling tatap tanpa daya.
Di hadapan mereka, sang ibu, Metriana Omenu (35), terbujur kaku di atas selembar tikar lusuh, pergi untuk selamanya. Air mata membasahi pipi-pipi mereka yang tampak lesu, ditemani sang kakek, Yosep Omenu, yang tunanetra.
Kepala Desa Tublopo, Dorotea Naikosat, membenarkan kondisi pilu ini. Ia menceritakan, Metriana adalah seorang janda yang hidup dalam kemiskinan ekstrem yang saat ini menetap di wilayah di RT 17/ RW 006.
Dorotea menjelaskan, setelah suami pertamanya meninggal, ia sempat menikah lagi, namun rumah tangganya kembali kandas empat tahun lalu. Sejak saat itu, Metriana menjadi satu-satunya tumpuan hidup bagi ketiga anaknya dan ayahnya, sang kakek tunanetra.
Di tengah duka yang mendalam, secercah bantuan datang. Seorang tokoh agama, Frater Herman Tugas Ginting OFM Conv, mendengar kabar ini dan segera tergerak. Ia mendonasikan peti jenazah, beras, kopi, dan gula untuk meringankan beban keluarga.
“Benar tadi Frater Herman Tugas Ginting OFM Conv sudah bantu peti jenazah, beras, dan kopi gula. Semoga bisa meringankan beban yang dialami keluarga,” kata Dorotea, Kamis 23/7/2025 malam.
Fr. Herman Tugas Ginting OFM Conv yang dihubungi terpisah, mengaku sedang berada di rumah duka untuk menyalurkan donasi dan memberikan penghiburan.
Bantuan dari Frater Herman, yang diakui sangat peduli pada kaum miskin, menjadi cerminan dari semangat ordo mereka yang selalu mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan.
“Saya masih di rumah duka, sekaligus salurkan Peti Jenazah untuk umat Metriana Omenu yang meninggal dunia,”ungkapnya
Ia mengisahkan, keluarga itu adalah keluarga kurang mampu dan selama ini kerap mendapat bantuan darinya untuk menyambung dan bertahan hidup.
Namun, meskipun jenazah Metriana kini sudah terurus, nasib ketiga bocah balita dan kakek Yosep Omenu masih menjadi tanda tanya besar.
Metriana yang selama ini menjadi penopang hidup telah tiada, meninggalkan kekosongan dan kekhawatiran akan masa depan mereka yang kini menjadi yatim piatu.
















