oleh

Webinar KJW-SIP: Menakar Peluang Ekonomi Digital dan Ancaman Resesi di Tengah Transisi Kebijakan 2026

banner 468x60

JAKARTA, MITRANEWS.ID – Mengakhiri tahun 2025 yang penuh dinamika, Koperasi Jasa Widyani Sejahtera Institut Perbanas (KJW-SIP) melalui Unit Diklat dan Pemberdayaan sukses menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk Refleksi Ekonomi 2025 dan Prospek Ekonomi 2026″, pada Jumat malam (19/12/2025).

Kegiatan yang berlangsung secara virtual ini menghadirkan pakar ekonomi dan perencana negara untuk membedah potret ekonomi nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto serta tantangan besar yang menanti di tahun 2026.

banner 336x280

Kritik atas Implementasi Kebijakan dan Risiko Resesi

Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, memberikan asesmen tajam mengenai kinerja ekonomi setahun terakhir. Meski mencatat adanya pergeseran peran negara yang lebih dominan dibandingkan swasta, Awalil menilai pondasi ekonomi yang diletakkan pada tahun pertama pemerintahan belum cukup kuat untuk menopang target pertumbuhan 8 persen.

“Kebijakan seringkali tidak didesain dengan matang dan mudah berubah. Ada indikasi Presiden tidak mendapatkan laporan yang lengkap dan objektif mengenai kondisi riil di masyarakat, sehingga evaluasi dan perbaikan tidak berjalan efektif,” ungkap Awalil.

Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa tahun 2026 akan menjadi ujian berat bagi fiskal pemerintah.

“Indonesia masih terjebak dalam middle income trap dengan rakyat yang hidup di sekitar garis kemiskinan. Dengan beban utang yang kian menumpuk, ruang kebijakan moneter yang menyempit, serta tekanan eksternal yang berat, ada risiko perekonomian Indonesia mengalami resesi pada 2026 jika mitigasi tidak segera dilakukan,” tegasnya.

Strategi Foresight Menuju Indonesia Emas 2045

Di sisi lain, Perencana Ahli Utama Kementerian PPN/Bappenas, Prof. Sumedi Andono Mulyo, M.A., Ph.D., menekankan pentingnya pendekatan foresight dan strategi jangka panjang.

Ia menyoroti tantangan koordinasi lintas sektoral yang seringkali terhambat oleh kepentingan politik jangka pendek.

“Kendali strategi pembangunan kini menyebar di berbagai kementerian dan pimpinan daerah. Seringkali, kebijakan ekonomi jangka panjang kalah oleh siklus politik lima tahunan. Koordinasi antar-departemen dan mitigasi risiko sangat diperlukan agar pembangunan tetap berkelanjutan,” jelas Prof. Sumedi.

Ia menambahkan bahwa ekonomi 2026 menuntut inovasi teknologi dan digitalisasi yang resilien. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat adalah kunci untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045.

Komitmen Koperasi dalam Edukasi Ekonomi

Acara yang dibuka oleh Pengawas KJW-SIP, Mustanwir Zuhri, S.E., M.M., ini dipandu oleh moderator Rizki Yuniarti dan MC Nurul Apriliyani. Diskusi berlangsung interaktif dengan fokus pada edukasi bagi para pelaku ekonomi dan anggota koperasi agar siap menghadapi ketidakpastian global.

 

 

Ketua Koperasi Jasa Widyani Sejahtera Institut Perbanas (KJW-SIP), Wilfridus B. Elu, selaku pelaksana kegiatan, menyampaikan bahwa webinar ini merupakan kontribusi nyata koperasi dalam memberikan perspektif yang jernih bagi anggotanya.

“Melalui webinar ini, kami ingin memberikan kompas bagi masyarakat dan pelaku ekonomi. Dengan memahami refleksi 2025 dan prospek 2026 secara objektif, kita dapat menyusun rencana aktivitas ekonomi yang lebih terukur, resilien, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman yang semakin digital,” pungkas Wilfridus.

Webinar ini diharapkan mampu menjadi landasan bagi para anggota koperasi dalam mengambil keputusan finansial di tengah ancaman tekanan ekonomi tahun mendatang.***

 

banner 336x280

News Feed