oleh

Dinas Perpustakaan TTU Gelar Bedah Buku Budaya Atoin Meto, Dorong Regenerasi Peneliti Budaya Lokal

-Daerah, Foto-124 Dilihat
banner 468x60

KEFAMENANU – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, menggelar sejumlah kegiatan literasi pada Rabu (10/12/2025), salah satunya bedah buku karya Yohanes Sanak dan Wilfridus Silab yang diselenggarakan di Aula Dinas Perpustakaan TTU. Kegiatan ini melibatkan siswa SMP, SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Dua pembedah, yakni Marianus Sengkoen dan Dr. Vincentius Mauk, S.Pd dari Program Studi PBSI Unimor, memberikan catatan kritis serta masukan mendalam terhadap karya para penulis. Bedah buku tersebut mengusung tema “Menelusuri Identitas Budaya Atoin Meto dalam Kearifan Lokal Timor.”

banner 336x280

Salah satu buku yang dibahas adalah karya Yohanes Sanak setebal 118 halaman yang membahas berbagai aspek budaya Atoin Meto, mulai dari politik, kepercayaan, bahasa, olahraga, hingga permainan tradisional. Dalam pembedahan, tim ahli menyoroti beberapa hal teknis, seperti tata bahasa dan ukuran huruf yang dinilai masih terlalu kecil.

Proses Penelitian Hampir 10 Tahun

Usai kegiatan, Yohanes Sanak menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan hasil penelitian panjang yang memakan waktu hampir satu dekade.

“Proses penelitiannya lama karena kami sempat menulis dengan judul lain, tetapi beberapa materi masih saling terkait sehingga kami padukan dan baru terbit tahun 2024. Finalisasi sudah dimulai sejak 2022,” jelasnya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Dinas Perpustakaan TTU yang telah memberikan ruang bagi para penulis untuk menerima kritik konstruktif. Yohanes berharap masukan para pembedah dapat menjadi bahan penyempurnaan untuk edisi revisi.

“Buku ini adalah dokumen payung kebudayaan, khususnya untuk masyarakat TTU. Masih ada belasan judul lain yang bisa dikembangkan. Kami berharap ada peneliti muda yang terdorong untuk ikut mendalami budaya ini,” katanya.

Kekhawatiran Soal Regenerasi Peneliti

Yohanes juga mengungkapkan kegelisahan terkait minimnya regenerasi peneliti budaya. Ia dan rekannya, Wilfridus Silab, berharap ada kader-kader muda yang bisa melanjutkan penelitian budaya lokal.

“Pak Wily sudah hampir 70 tahun, saya 50 tahun. Setelah kami, siapa lagi? Karena itu kami mendorong dosen dan peneliti muda agar mengambil bagian dalam pendokumentasian budaya,” ujarnya.

Kadis Perpustakaan: Hidupkan Kembali Kearifan Lokal TTU

Kepala Dinas Perpustakaan TTU, Amandus Afeanpah, menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku tersebut merupakan salah satu dari tiga agenda utama hari itu.

Pertama, peningkatan akses pendidikan melalui peran perpustakaan sebagai bagian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Kedua, lokakarya digitalisasi perpustakaan dan literasi digital yang menghadirkan narasumber dari dosen IT Unimor, dengan peserta pelajar SMP/SMA serta masyarakat umum.
Ketiga, bedah buku karya Yohanes Sanak dan Wilfridus Silab.

Amandus mengatakan kegiatan ini muncul dari keprihatinan terhadap banyaknya cerita rakyat atau kearifan lokal TTU yang belum terdokumentasikan secara resmi, baik melalui ISBN maupun penerbitan yang jelas.

“Ini yang memicu kami mengumpulkan para penulis dan pegiat literasi agar menghidupkan kembali kearifan lokal TTU dalam bentuk buku yang terdokumentasi dengan baik,” tegasnya.

Ia berharap rangkaian kegiatan literasi tersebut dapat mendorong budaya membaca dan menulis sekaligus memperkaya referensi mengenai identitas budaya masyarakat TTU.

banner 336x280